Pengurus Komisariat (PK) KTP Pamekasan
turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya:
Almaghfurlah
H. Abdullah Rahman
(Kepala Urusan TMTB & Dai Pondok Pesantren Sidogiri, periode 1417–1421 H)
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, menerima seluruh amal ibadah beliau, mengangkat derajatnya di sisi-Nya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di surga-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan iman.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
IASS PK KTP Pamekasan
------- CATATAN MAS DWYSA ------
Ustadz Abdullah Rahman
Ada orang yang hadir dalam hidup kita tanpa banyak bicara, tapi jejaknya tinggal lama. Tidak riuh. Tidak menuntut dikenang. Tapi diam-diam ikut membentuk arah hidup.
Ustadz Bandi Yasin Juhandi—kalau tidak salah begitu nama aslinya. Setelah menunaikan haji, namanya berganti menjadi Abdullah Rahman. Seorang santri Sidogiri. Dari cerita-cerita lama, saya tahu beliau sudah nyantri jauh sebelum saya lahir. Waktu itu, beliau masih nututi gesang bapak saya. Artinya jelas: saat saya belum ada, beliau sudah lebih dulu menanam langkah di pesantren.
Saya lahir, lalu hanya diberi waktu 2,5 tahun bersama bapak. Setelah itu, bapak wafat. Hidup berjalan dengan lubang yang tidak pernah benar-benar tertutup. Dan di sela lubang itulah, beberapa orang hadir—salah satunya Ustadz Bandi.
Beliau dekat dengan keluarga kami. Ibu saya mengenalnya sebagai orang yang bisa dimintai tolong tanpa banyak tanya. Kalau ada perlu, ibu menyebut namanya. Tidak ribut. Tidak berlebihan. Seperti menyebut orang rumah sendiri.
Saya mondok tiga kali. Dan tiga-tiganya, Ustadz Bandi yang mengantarkan. Bahkan yang mengirim juga beliau—atas permintaan ibu. Saya masih ingat betul, itu bukan sekadar perjalanan fisik. Ada doa yang ikut dibawa. Ada rasa aman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti diserahkan kepada orang yang tepat.
Jasa beliau dalam hidup saya tidak kecil. Tapi anehnya, jasa itu tidak pernah ditagih. Tidak pernah disebut. Tidak pernah dipakai sebagai alasan untuk dihormati. Ia tinggal sebagai kebaikan yang sunyi—jenis kebaikan yang baru terasa bobotnya ketika waktu sudah jauh berjalan.
~Mas Dwy Sadoellah~

.jpg)
